Kemarahan dan Tujuh Hal Yang Menyenangkan Musuh

oleh Verlina Yanti 2 tahun yang lalu
kemarahan - Vidyāsenā Vihāra Vidyāloka

Marah merupakan satu suku kata yang memberikan konotasi negatif. Pada dasarnya, setiap orang mempunyai sifat marah, sifat yang dapat dirasakan dan ditunjukkan dalam suatu kondisi yang tidak menyenangkan, yang sulit diterima dalam diri kita. Sifat marah sesungguhnya tersembunyi di dalam diri kita, dan tinggal menunggu waktu untuk membakar dan menguasai diri kita. Kemarahan bisa diumpamakan sebagai kilatan cahaya yang menyilaukan, menyambar dan menyebabkan kita bertingkah yang tidak masuk diakal dan sungguh tidak terkendali, bagai kemudi yang lepas kendali.

Kemarahan merupakan wujud emosi yang buruk dan merusak. Setiap orang bisa marah dan bentuk dari kemarahan itu selalu berbeda dalam setiap diri pribadi. Kemarahan yang tidak terkendali dapat menghancurkan diri kita sendiri dan merugikan orang lain, yang akhirnya membawa penderitaan.

Orang yang marah sesunggunya orang yang bodoh, karena orang yang marah sebenarnya bertempur dengan diri sendiri, yang menjadi musuh terjahat. Kemarahan itu akan semakin berkobar jika disiram dengan minyak emosi, terutama jika keserakahan berada dibalik emosi itu. Pada saat kemarahan menguasai, manusia akan berhenti menjadi manusia, dan berubah menjadi binatang buas yang kecenderungan merusak orang lain tetapi juga merusak diri sendiri. 

Sang Buddha menjelaskan kejinya kemarahan dan berkata bahwa pada waktu seseorang diliputi kemarahan, tujuh hal akan menimpa dirinya dan menyenangkan musuh-musuhnya. Ketujuh hal tersebut adalah:

  1. Ia akan kelihatan jelek, meskipun berbusana indah dan bertata rias baik. 
  2. Ia akan terbujur kesakitan, meskipun tidur diatas kasur yang empuk dan nyaman. 
  3. Ia akan melakukan perbuatan yang hanya akan membawa kerusakan danpenderitaan, karena menganggap yang baik sebagai yang buruk dan yang buruk sebagai yang baik.
  4. Selalu ceroboh dan tidak lagi memakai akal sehat. 
  5. Ia akan menghabiskan kekayaan yang diperolehnya dengan susah payah, bahkan berurusan dengan hukum.
  6. Ia akan kehilangan reputasi dan nama baik yang dicapai dengan susah payah. 
  7. Setelah meninggal ia akan terlahir di alam yang tidak menyenangkan karena orang yang dikuasai kemarahan melakukan perbuatan tercela yang berakibat buruk melalui tubuh, ucapan dan pikiran. 

(Anguttara Nikaya 7.60: Kodhana Sutta)

Cara yang baik untuk mengendalikan kemarahan adalah dengan berlaku seolah-olah pikiran yang tidak diinginkan tidak ada dalam pikiran. Dengan menggunakan kekuatan tekad, kita memusatkan pikiran pada sesuatu yang bermanfaat dan dengan cara inilah emosi-emosi negatif dikalahkan. Memang sukar untuk dilakukan apabila kita sedang dihina, dimaki dengan kata-kata kasar, mengharapkan semoga dia berbahagia. Kita sudah terbiasa dari kecil untuk membalas dendam, sehingga untuk mengen&likan diri agar tidak terbawa emosi sangatlah sulit. 

Perlu kita renungkan bahwa kejahatan tidak akan berakhir dengan kejahatan namun dengan cinta kasih dan kasih sayang kejahatan dapat dilumpuhkan. Dan perlu kita resapi kata-kata Sang Buddha: Ia menghinaku, mengalahkanku, merampokku, dan dalam diri orang yang masih berpikiran seperti itu, kebencian tak akan berakhir. Jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh kemarahan, ingat bahwa kemarahan akan merusak diri kita dari pada orang lain, karena itu kembangkanlah dan pancarkan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk semoga mereka berbahagia, dan tetap hidup dalam metta diantara mereka yang membenci. 

Artikel Terbaru