Cattāri Ariyasaccāni: Evolusi sebagai Perubahan yang Tiada Hentinya

oleh Jocelyn Wisely 2 tahun yang lalu
gambar Vidyāsenā - perubahan

Makhluk hidup di dunia ini senantiasa mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam siklus hidupnya, termasuk manusia. Terlepas dari hal tersebut, seluruh makhluk hidup akan mengalami peristiwa lahir, tua, dan mati. Hal ini tertera pada kitab suci Dhammapada Bab X Ayat 135 yang berbunyi, “Bagaikan seorang penggembala menghalau sapi-sapinya dengan tongkat ke padang rumput, begitu juga umur tua dan kematian menghalau kehidupan makhluk-makhluk.” Seiring berjalannya waktu, kehidupan akan terus mengalami perubahan, mulai dari perubahan pola pikir dan gaya hidup manusia, teknologi, lingkungan, hingga fisik / jasmani makhluk hidup. Peristiwa ini dapat dikaitkan dengan terjadinya proses evolusi makhluk hidup, yang merupakan suatu bentuk perubahan struktur tubuh makhluk hidup yang terjadi secara perlahan dan bertahap dalam waktu yang sangat lama dengan tujuan agar mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap lingkungan akibat adanya seleksi alam. Makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan tersebut akan punah secara perlahan-lahan. Evolusi tentunya juga terjadi pada manusia. Menurut Charles Darwin, manusia berevolusi dari manusia purba atau nenek moyang yang dikenal dengan Homo sapiens. Secara bertahap, materi genetik berupa DNA yang diwariskan kepada keturunan akan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. 

Pada realitanya, dunia tidak pernah berada dalam keadaan yang statis (tetap); segala sesuatu akan senantiasa dinamis. Oleh karena itu, evolusi tidak hanya terbatas pada perubahan yang terjadi pada makhluk hidup, tetapi juga pada benda, inovasi, maupun ilmu pengetahuan. Kayu yang dimakan oleh rayap dapat mengalami pelapukan, besi yang telah dipakai selama bertahun-tahun dapat berkarat, hingga komunikasi dalam bentuk surat yang sekarang telah difasilitasi oleh adanya E-mail merupakan bukti nyata bahwa segala sesuatu telah dan akan berubah. Dengan adanya berbagai perubahan ini, maka dapat dipastikan bahwa kehidupan tidaklah kekal (anicca). Segala hal yang tidak kekal mempunyai karakteristik anatta (bukan diri) karena tidak ada sesuatu yang abadi, dapat dimiliki, ataupun dikendalikan selamanya, sehingga akhirnya dapat menimbulkan dukkha (penderitaan) yang merupakan bagian dari Tiga Corak Umum (Tilakkhaṇa). 

Perubahan merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat dihindari. Terdapat berbagai bentuk penderitaan di dunia ini, salah satunya yaitu Viparinama-Dukkha, yang merupakan penderitaan karena perubahan. Contohnya, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang tidak disukai, tidak tercapai apa yang diinginkan, sedih, putus asa, dan sebagainya. Tentunya, bentuk penderitaan tersebut memiliki sebab dan akhir, seperti yang tercantum pada Empat Kebenaran Mulia (Cattāri ariyasaccāni) yang meliputi Kebenaran tentang adanya Dukkha (Dukkha), kebenaran tentang sebab Dukkha (Dukkha Samudaya), kebenaran tentang lenyapnya Dukkha (Dukkha Nirodha), dan kebenaran tentang jalan menuju lenyapnya Dukkha (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Magga). Menghadapi perubahan dapat diawali dengan membangun pola pikir yang positif; bahwa perubahan merupakan suatu peristiwa yang diluar kendali dan segala perubahan akan selalu mengantarkan manusia menuju bentuk kehidupan yang lebih baik apabila manusia mampu menyikapinya dengan benar. Pernyataan ini mendukung ungkapan Y.M. Bhante Uttamo Mahathera pada Jumat, 5 Maret 2010 di Balai Budaya, Gianyar yang menyatakan bahwa “Seni menghadapi perubahan adalah bagaimana kita selalu melalui setiap perubahan dari sudut pandang yang menyenangkan. Cara menyikapi perubahan itulah yang membuat kita bahagia atau menderita. Hidup selalu berubah, tapi pola pikir kita untuk menghadapi perubahan itulah yang paling penting.”

Kesimpulannya, evolusi merupakan suatu wujud perubahan yang terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama secara perlahan dan bertahap terhadap makhluk hidup, benda, inovasi, pola pikir, gaya hidup, lingkungan, dan sebagainya. Adanya perubahan tentu akan menimbulkan dukkha (penderitaan) karena hal tersebut membuat manusia sadar bahwa dunia ini penuh dengan ketidakkekalan (annica). Salah satu upaya untuk menghadapi perubahan tersebut adalah dengan selalu berpikir positif dengan sudut pandang yang senantiasa bahagia.

Artikel Terbaru